Rabu, 12 November 2014

Dari Gelap Berbagilah Bahagia



Berbagi kebahagiaan tidak hanya bisa dilakukan oleh yang sempurna. Bahkan, orang yang cacat sekalipun bisa membahagiakan orang lain. Kadangkala, orang yang sempurna sering melupakan dan tidak bisa berbagi kebahagiaan bersama sesama, sedangkan yang cacat dalam arti fisik tidak menjauhkan diri dari ini.
Awalnya mungkin kita kehilangan pegangan. Merasa tidak berguna, dan ingin pergi sajadari semuanya. Tapi ingatlah! Masih banyak yang menyayangi kita sob! Masih banyak yang membutuhkan pertolongan kita, dan masih banyak orang yang bisa kita bahagiakan. Meskipun cacat, tidak berarti berhenti untuk berbagikan?
Ia adalah laki-laki penyandang tuna netra. Ia kehilangan penglihatannya saat kuliah Di ITB, kala itu dia mendapat PMDK untuk bisa berkuliah di sana. Gluochoma menjadi sebuah ganjaran karier pendidikannya untuk mengenyam sekolah lebih lanjut.
Dia putus kuliah karena kehilangan penglihatannya tersebut. Kemudian selama kurun waktu kurang lebih 1,5 tahun dia berada dalam kegelapan tiada henti merasa tak berguna dan pernah berkehendak untuk bunuh diri.
Namun, ternyata cerita berubah drastis kala dia dititipkan bundanya menuju rumah pakdenya yang merupakan seorang dosen di sebuah universitas negeri ternama di Kota Yogyakarta. Di sanalah dia menenmukan hidupnya, hanya dengan sebuah kebiasaan yang sengaja diterapkan dari pakdenya kepada dirinya, yaitu wajib sholat subuh berjamaah di masjid, kemudian setelah itu mencuci mobil yang dimiliki oleh pakdenya. Suatu pagi saat dia mencuci ternyata ada seseorang  yang  mengamati kebiasaan laki-laki tersebut dan akhirnya terlibat sebuah percakapan di antara keduanya.
“Mas, Anda itu buta tapi tetap semangat Ibadah dan bekerja Anda luar biasa”. Ternyata dari percakapan ringan dan singkat tersebut muncul sebuah insight, sebuah hidayah, sebuah pencerahan yang diberikan Allah padanya.
Sejak saat itu, dia mulai bersemangat dan menghentikan kegalauannya. Ia merasa bahwa meskipun dia cacat, itu bukan berarti dia tidak berguna. Seperti mentimun bungkuk, misalnya? Dia tidak akan dibuang! Dia masih bisa bermanfaat untuk orang lain. Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali kuliah dan pindah hidup mandiri di sebuah pondok di Yogyakarta.
Saat itulah ia manjadi pribadi yang luar biasa, seseorang pemberi semangat dengan khotbah-khotbahnya yang simple namun dasyat mampu mengubah mindset anak-anak panti tuna netra menjadi lebih semangat. Dia pernah memberikan petuah “cacing itu buta, gak punya kaki, gak punya tangan. Tapi karena cacing itulah kesejukan dunia terjaga, kehidupan begitu indah karena dia menyuburkan pepohonan, menjadikan tanaman hidup dan akhirnya hijau di bumi menjadi sebuah lambang kehidupan.”
[Disadur dari sosbud.kompasiana.com]

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts