Rabu, 11 Desember 2013

Mendasari Ilmu Tentang Cinta

Ilmu harus berdasarkan cinta. Tanpa cinta, ilmu dapat menyebabkan terjadinya kerusakan yang besar, bahkan melebihi besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh kebodohan. Menurut Gede Prana, ilmu adalah anaknya cinta. Oleh karena itu, ilmu harus mematuhi cinta.

Tokoh-tokoh moral dunia senantiasa mendasari ilmu dengan cinta, misalnya Jalalaluddin Rumi yang disebut Nabi Para Penyair mendasarkan karya-karyanya dengan cinta. Ia menjelaskan bahwa segala sesuatu berasal dari cinta. Berkat beliau, agama Islam dapat menampakkan wajah yang penuh kasih sayang kepada siapa pun.

Lain halnya dengan ilmu yang "mendurhakai" cinta. Ia akan menunjukkan wajah yang garang kepada semua orang. Ilmu yang "durhaka" adalah ilmu yang menimbulkan kerusakan, menebarkan kebencian dan memunculkan fitnah.


Sesungguhnya, tokoh-tokoh hebat seperti Rumi tidak hanya berasal dari umat Islam. Di kalangan Nasrani, ada Bunda Theresa. Dari agama Hindu, kita mengenal Mahatma Gandhi, sedangkan di kalangan Buddha, dikenal Dalai Lama. Merekalah pelaku-pelaku akhlakul karimah  yang dianugerahi ilmu yang tunduk dan berbakti pada cinta. Mereka meyakini bahwa ilmu agama adalah "tangan" Tuhan yang membelai umat manusia dengan penuh kasih sayang, bukan "tangan" Tuhan yang memukul dan menyakiti.






Sumber  Buku "Potensi SQ, EQ, & IQ di Balik Ayat-ayat al-Faatihah" Mustamir, S.Ked.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts